-->

PENILAIAN KUALITAS SUARA SERTA PENGAMATAN BENTUK ANATOMI SYRINX DUA SPESIES BURUNG BERNYANYI, KENARI (Serinus canaria Linn.) DAN ANIS MERAH (Zoothera citrina latham)


(Scoring of Voice Quality and Anatomical Performance of Two Species of
Canary Birds (Serinus canaria Linn and Zoothera citrina latham)
UCU JULITA1 dan LULU LUSIANTI FITRI2
1Pendidikan Biologi Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Jl. A. H. Nasution 8, Bandung
2Program Studi Biologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Labtek XI Jl. Ganesa 10, Bandung
ABSTRACT
Birds especially singing birds are animals that create the most voices compared to others animals. Every
species of bird has its own singing character and singing quality. The different singing charachteristic and
quality due to its ability to control the main voice organ (syrinx). There research was conducted from
November – December 2005 and March 2006 to record the singging quality and observ the syrinx anatomy of
Serinus canaria L. and Zoothera citrina at the house of the birds owners. There were 6 birds; 3 male adult of
S. Canaria (A, B, C between 25 – 28 months of age) and 3 male adult of Z. citrina (A, B, C between 48 – 72
months of age). The sound was analysed in the form of sonogram and oscillogram hrough a programof
Avisoft – sonograph and recorded at 08.00 – 11.00 a.m. Measured parametrs included: the length of voice,
repertoire size, number of syllable, syllable repertoire, song repertoire. Result showed that S. canaria B and
Z. citrina C were birds that had the best quality of voice.
Key Words: Singing Bird, Syllabel, Syrinx, Serinus canaria, Zoothera citrina, Sonogram, Oscillogra
ABSTRAK
Burung merupakan hewan yang paling banyak mengemisikan suara, terutama kelompok burung
bernyanyi. Setiap spesies burung bernyanyi memiliki karakteristik dan kualitas nyanyian yang berbeda-beda.
Peternak burung bernyanyi sebaiknya mengetahui perbedaan karakterisitk dan kualitas nyanyian tersebut
yang salah satunya dikarenakan oleh perbedaan kemampuan pengontrolan organ vokal utama atau syrinx
pada setiap individu burung. Melalui penelitian ini, penilaian kualitas nyanyian dan pengamatan bentuk
anatomi syrinx dua spesies burung bernyanyi (Oscines), burung kenari (Serinus canaria L.) dan burung anis
merah (Zoothera citrina), telah dilakukan selama bulan November – Desember 2005 dan Maret 2006 di
rumah beberapa pemilik burung dan peternakan lokal. Individu burung yang digunakan dalam penelitian
tahap penilaian kualitas nyanyian adalah sebanyak enam ekor, yang terdiri dari tiga ekor burung kenari jantan
dewasa (individu kenari A, B, dan C, kisaran umur 25 – 28 bulan) dan tiga ekor burung anis merah jantan
dewasa (individu anis merah A, B, C, kisaran umur 48 – 72 bulan). Penilaian kualitas nyanyian burung kenari
dan burung anis merah dilakukan dengan metode pencuplikan suara serta dianalisis dalam bentuk ’sonagram’
dan ’oscillogram’ melalui program Avisoft-Sonagraph. Pencuplikan suara dilakukan terhadap setiap individu
burung pada pagi hari dalam rentang waktu pukul 08.00 – 11.00 saat cuaca cerah. Parameter suara nyanyian
yang diukur meliputi: durasi nyanyian, repertoire size, jumlah tipe silabel (syllable) dalam satu nyanyian,
syllable repertoire, song repertoire dan kenaikan jumlah tipe silabel untuk setiap dua puluh nyanyian. Setelah
analisis suara selesai, dilakukan pengamatan bentuk anatomi syrinx terhadap satu ekor burung kenari jantan
dan satu ekor burung anis merah jantan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa burung kenari B dan burung
anis merah C merupakan individu burung yang berkualitas paling baik dibandingkan dengan dua individu
lainnya dalam satu spesies.
Kata Kunci: Burung Bernyanyi, Silabel, Syrinx, Kenari (Serinus canaria), Anis Merah (Zoothera citrina),
Sonagram, Oscillogram
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
784
PENDAHULUAN
Setiap spesies burung bernyanyi (Oscines)
memiliki karakteristik dan kualitas nyanyian
yang berbeda-beda (BRENOWITZ et al., 1997).
Perbedaan tersebut salah satunya dikarenakan
oleh perbedaan kemampuan dalam
pengontrolan organ vokal utama atau syrinx
pada setiap spesies burung (CATCHPOLE dan
SLATER,1995). Kriteria penilaian yang
ditetapkan oleh para juri kontes burung burung
bernyanyi untuk menentukan burung bernyanyi
berkualitas paling unggul cukup banyak
(TURUT, 2006), sehingga diperlukan alat bantu
yang dapat memudahkan mekanisme penilaian
secara objektif. Untuk memudahkan proses
analisis kualitas suara burung bernyanyi, baik
untuk kepentingan penjurian saat kontes
burung, peningkatan kualitas suara pada proses
pemeliharaan burung oleh peternak burung
bernyanyi ataupun untuk kepentingan ilmiah,
dapat digunakan serangkaian metoda ilmiah
yang salah satunya adalah dengan
menggunakan ‘spectrogram’ melalui perangkat
komputer. Melalui ‘spectogram’, karakteristik
suara yang diemisikan dapat dikenali dan
dihitung berdasarkan bentuk dan parameter
suara seperti frekuensi suara, elemen suara atau
silabel (’syllable’) dan durasi suara (FITRI,
2002). Dengan demikian, metode ’spectogram’
berguna untuk memberikan penilaian yang
objektif mengenai kualitas burung bernyanyi.
Mekanisme vokalisasi pada burung terjadi
karena adanya aktivitas koordinasi antara
proses respirasi, organ vokal utama syrinx dan
serangkaian jalur vokalisasi lainnya atau vocal
tract (SUTHERS et al., 1999; SUTHERS dan
MARGOLIASH, 2002; MCLELLAND, 1989).
Syrinx merupakan organ vokal utama yang
berperan dalam memproduksi berbagai
karakteristik nyanyian pada burung bernyanyi
(KING, 1989; FAGERLUND, 2003). Menurut
SUTHERS dan GOLLER (1997), suara dihasilkan
oleh dua jaringan yang lembut pada syrinx,
yaitu medial labia (ML) dan lateral labia (LL)
yang terletak di kedua sisi syrinx ketika terjadi
aliran udara dari paru-paru. Suara dihasilkan
ketika ML dan LL bergerak ke arah tengah
lumen syrinx. Organ syrinx terletak diatara
trakea dan bronkus, tersusun dari banyak
cincin-cincin kartilago, dan diantara cincin
kartilago terdapat membran tipis yang lentur
menghubungkan antar cincin kartilago yang
dapat merenggang sehingga bersifat fleksibel
(KING dan MCLELLAND, 1989). Bentuk
anatomi syrinx berhubungan erat dengan
kemampuan vokalisasi burung bernyanyi
dalam menghasilkan berbagai karakteristik
nyanyian (GAUNT, 1983).
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk melakukan penilaian kualitas suara dan
pengamatan bentuk anatomi syrinx dua spesies
burung bernyanyi, yaitu burung kenari (Serinus
canaria) dan burung anis merah (Zoothera
citrina). Kedua spesies burung tersebut
termasuk spesies burung bernyanyi yang
banyak diminati, karena memiliki karakteristik
suara yang khas.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini dilakukan pada enam ekor
burung bernyanyi, yang terdiri dari tiga ekor
burung kenari jantan dewasa (individu kenari
A, B, dan C, kisaran umur 25 – 28 bulan) dan
tiga ekor burung anis merah jantan dewasa
(individu anis merah A, B, C, kisaran umur 48-
72 bulan). Penilaian kualitas nyanyian
dilakukan dengan metode pencuplikan suara
serta analisis suara dalam bentuk sonagram
dan oscillogram melalui program Avisoft-
Sonagraph Pro (SPECHT, 1996). Pencuplikan
suara dilakukan pada pagi hari dalam rentang
waktu pukul 08.00 – 11.00 selama bulan
November – Desember 2005 dan Maret 2006
saat cuaca cerah hingga diperoleh ± 200
cuplikan nyanyian dari setiap individu burung.
Pencuplikan suara dilakukan melalui alat
perekam suara SONY TCM-40DV berikut
built-in microphone yang diletakkan di atas
sangkar. Parameter suara nyanyian yang diukur
meliputi: durasi nyanyian, repertoire size,
jumlah tipe silabel (syllable) dalam satu
nyanyian, syllable repertoire, song repertoire
dan kenaikan jumlah tipe silabel untuk setiap
dua puluh nyanyian. Setelah analisis suara
selesai, dilakukan pengamatan bentuk anatomi
syrinx terhadap satu ekor burung kenari jantan
dan satu ekor burung anis merah jantan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis suara dan
analisis statistik diketahui bahwa burung kenari
B memiliki rerata durasi nyanyian, rerata
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
785
jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian, rerata
repertoire size (Gambar 1), dan syllable
repertoire (Gambar 3a) yang lebih tinggi dari
pada burung kenari A dan burung kenari C.
Keempat parameter suara tersebut turut
menentukan karakteristik irama nyanyian
burung kenari. Tingginya nilai setiap parameter
pada burung kenari B memenuhi persyaratan
penilaian burung bernyanyi yang berkualitas
dalam sistem penjurian kontes seni suara
burung bernyanyi.
Karakteristik khas dari nyanyian burung
kenari jantan berkualitas adalah memiliki
durasi yang panjang dengan laju repetisi silabel
yang tinggi yang juga menentukan repertoire
size. Karakteristik khas tersebut lebih banyak
diemisikan untuk menarik pasangannya (mate
attraction) saat musim kawin dan untuk
kepentingan mempertahankan daerah
kekuasaan (territory defence) (LEITNER dan
CATCHPOLE, 2004). Menurut HARTLEY dan
SUTHERS (1989), burung kenari jantan
berkualitas mampu memproduksi nyanyian
dengan laju repetisi yang tinggi karena
kemampuan organ syrinx dan organ dari sistem
pernafasan untuk melakukan (1) mekanisme
mini-breaths, yaitu inspirasi dalam waktu yang
sangat singkat yang berlangsung antar silabel
dalam satu phrase atau dalam satu nyanyian
total atau (2) mekanisme pulsatile expiration,
yaitu menggetarkan udara ekspirasi secara
cepat jika laju repetisi silabel sangat tinggi.
Nyanyian berdurasi panjang dengan laju
repetisi silabel dan repertoire size yang tinggi
merupakan indikator kondisi fisik dan perilaku
burung kenari jantan berkualitas paling baik
menurut penilaian burung kenari betina
(VALLET et al., 1997), karena karakteristik
nyanyian tersebut sangat kompleks dan sulit
untuk diproduksi (DRAGANOIU et al., 2002).
Burung kenari betina akan merespon
karakteristik nyanyian kompleks tersebut
dengan menunjukkan perilaku siap untuk
dikopulasi (copulation solicitation display)
(VALLET et al., 1997). Nyanyian burung kenari
jantan yang berisi repetisi silabel yang tinggi
dengan durasi panjang atau disebut sebagai
sexy syllable, mampu memancing dan
meningkatkan perilaku copulation solicitation
display burung kenari betina (LEITNER dan
CATCHPOLE, 2004).
Berdasarkan hasil analisis suara burung
anis merah diketahui bahwa individu burung
anis merah C memiliki rerata durasi nyanyian,
rerata jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian,
rerata repertoire size (Gambar 2), dan nilai
Gambar 1. Rerata durasi nyanyian (a), rerata jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian (b), dan rerata
repertoire size (c) burung kenari
Huruf yang berbeda (a, b, c) pada parameter yang sama menyatakan perberbedaan nyata pada selang
kepercayaan 95% (Uji Duncan, P < 0,05)
b
c
a
a
b
a
a
b
a
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
A B C
Individu
Durasi nyanyian (detik)
0
2
4
6
8
10
12
A B C
Individu
Jumlah tipe silabel per nyanyian
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
A B C
Individu
Repertoire size
(a) (b) (c)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
786
Gambar 2. Rerata durasi nyanyian (a), rerata jumlah tipe silabel dalam satu nyanyian (b), dan rerata
repertoire size (c) burung anis merah
Huruf yang berbeda (a,b,c) pada parameter yang sama menyatakan berbeda nyata pada selang kepercayaan
95% (Uji Duncan, P < 0,05)
syllable repertoire (Gambar 3b) yang lebih
tinggi daripada kedua burung anis merah
lainnya. Keempat parameter suara tersebut
turut menentukan karakteristik irama nyanyian
burung anis merah. Lebih tingginya nilai setiap
parameter pada burung anis merah C
memenuhi syarat-syarat penilaian burung
bernyanyi berkualitas dalam sistem penjurian
kontes seni suara burung bernyanyi.
Berbeda dengan karakteristik nyanyian
burung kenari yang cenderung memiliki durasi
yang panjang, durasi nyanyian burung anis
merah cenderung pendek. Namun demikian,
salah satu karakteristik khas pada nyanyian
burung anis merah adalah memiliki durasi
antar nyanyian yang lebih singkat daripada
durasi antar nyanyian burung kenari.
Kemungkinan burung anis merah tidak
memiliki kemampuan melakukan mekanisme
mini-breaths seperti burung kenari, sehingga
karakteristik nyanyian yang diemisikan tidak
berupa laju repetisi silabel yang tinggi.
Nyanyian dengan nilai repertoire size yang
tinggi dapat menjadi indikator burung anis
merah jantan yang berkualitas karena semakin
banyak silabel yang diemisikan dalam satu kali
nyanyian memerlukan koordinasi sistem saraf,
sistem respirasi, dan otot syrinx yang lebih
kompleks yang harus didukung oleh energi
yang mencukupi (SUTHERS et al., 2004).
Nilai song repertoire dan syllable
repertoire menjadi komponen penting dalam
penilaian kualitas burung bernyanyi, karena
turut menentukan banyaknya variasi nyanyian
dan menunjukan kekayaan tipe suara yang
dapat diemisikan. Sedikit lebih tingginya nilai
syllable repertoire pada burung kenari B
dibandingkan dengan burung kenari A dan
burung kenari C (Gambar 3a), menunjukkan
bahwa burung kenari B merupakan individu
burung yang paling berkualitas. Banyaknya
tipe silabel total yang dimiliki oleh burung
bernyanyi bergantung pada tahapan proses
belajar yang dilalui (BRAINARD dan DOUPE,
2002).
Jika ditinjau dari parameter nilai song
repertoire, maka burung kenari C dapat pula
disebut sebagai burung yang berkualitas bila
dibandingkan kedua burung kenari lainnya.
Meskipun nilai syllable repertoire burung
kenari C lebih rendah daripada burung kenari
B, burung kenari C mampu mengkomposisikan
syllable repertoire tersebut lebih baik sehingga
dihasilkan variasi nyanyian yang lebih banyak.
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
A B C
Individu
a a
b
Repertoire size
0
1
2
3
4
5
6
7
A B C
Individu
a a
a
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
4
A B C
Individu
Durasi nyanyian (detik)
a a
b
Jumlah tipe silabel per nyanyian
(a) (b) (c)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
787
Gambar 3. Song repertoire (SoRep) dan syllable repertoire (SylRep): (a) burung kenari; (b) burung anis
merah
Bila dibandingkan dengan burung kenari,
tipe silabel yang menyusun nyanyian burung
anis merah jauh lebih bervariasi. Tipe silabel
yang menyusun nyanyian sebelumnya jarang
diulang kembali pada nyanyian berikutnya,
sehingga nilai syllable repertoire burung anis
merah jauh lebih tinggi daripada burung
kenari, yaitu mampu mencapai 381 tipe silabel,
sementara burung kenari paling tinggi hanya
memiliki 27 tipe silabel dalam 200 nyanyian
yang dicuplik (Gambar 3b). Yang
menyebabkan perbedaan nilai syllable
repertoire antara burung anis merah dengan
burung kenari kemungkinan adalah perbedaan
kapasitas koordinasi antara sistem saraf, sistem
respirasi, dan otot syrinx pada kedua burung
tersebut (SUTHERS et al., 2004). Keterbatasan
motoris dan perbedaan koordinasi dari ketiga
sistem tersebut akan membentuk karakteristik
nyanyian khas spesies spesifik atau nyanyian
conspecific-nya (DRAGANOIU et al., 2002;
SUTHERS et al., 2004).
Pada grafik kenaikan jumlah tipe silabel
setiap dua puluh nyanyian burung kenari,
diketahui bahwa pemunculan tipe silabel yang
baru cenderung lebih sedikit dibandingkan
dengan kenaikan jumlah tipe silabel yang baru
setiap dua puluh nyanyian pada burung anis
merah (Gambar 4a dan 4b). Burung kenari
memiliki keterbatasan dalam memproduksi
variasi silabel yang banyak, meskipun
demikian dengan jumlah tipe silabel yang jauh
lebih sedikit daripada burung anis merah,
burung kenari tetap mampu memproduksi
variasi nyanyian yang sama tingginya dengan
variasi nyanyian anis merah. Hal tersebut
menunjukan bahwa burung kenari memiliki
kemampuan mengkomposisikan tipe silabel
yang lebih baik daripada burung anis merah.
Meskipun nilai syllable repertoire pada burung
anis merah jauh lebih tinggi daripada burung
kenari, kemampuan burung anis merah dalam
mengkomposisikan tipe silabel dalam
menyusun satu tipe nyanyian lebih rendah
daripada burung kenari.
0
25
50
75
100
125
150
175
200
A B C
Individu
SoRep SylRep
Jumlah
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
A B C
Individu
SoRep SylRep
Jumlah
(a) (b)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
788
􀂃 (a)
Gambar 4. Kenaikan jumlah tipe silabel setiap dua puluh nyanyian: (a) burung kenari; (b) burung anis merah
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap
anatomi syrinx burung kenari dan burung anis
merah diketahui bahwa anatomi syrinx kedua
spesies burung tersebut tampak berbeda.
Perbedaan anatomi tersebut diantaranya terlihat
pada ukuran panjang dan bentuk anatomi
eksternal kedua sisi syrinx. Ukuran panjang
syrinx burung kenari tampak lebih panjang
daripada burung anis merah, sedangkan bentuk
anatomi eksternal otot syrinx atau otot siringeal
burung kenari bagian ventral berupa massa otot
memanjang kemudian membulat pada bagian
bawah (Gambar 5a). Adapun bentuk anatomi
eksternal otot syrinx burung anis merah adalah
berupa massa otot yang membulat pada kedua
sisi syrinx bagian ventral tanpa ada lapisan otot
yang memanjang pada bagian atasnya seperti
pada burung kenari (Gambar 5b). Pada kedua
0
5
10
15
20
25
30
1---20 21-40 41-60 61-80 81-100 101-120 121-140 141-160 161-180 181-200
Kenari A Kenari B Kenari C
Jumlah tipe silabel
Nyanyian
(a)
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
1---20 21-40 41-60 61-80 81-100 101-120 121-140 141-160 161-180 181-200
Nyanyian
Anis A Anis B Anis C
Jumlah tipe silabel
(b)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
789
Gambar 5. Bentuk anatomi syrinx: (a) burung kenari; (b) burung anis merah
individu burung tersebut, otot siringeal bagian
ventral tampak lebih tebal daripada bagian
dorsal.
Dilihat dari posisi organ syrinx, keduanya
termasuk tipe syrinx trakheobronkial yaitu
syrinx yang berada tepat pada percabangan
trakea. Tipe syrinx trakheobronkial merupakan
tipe umum dari burung bernyanyi atau burung
oscines (FAGERLUND, 2003). Tipe syrinx
tersebut mendukung tingkat kompleksitas
nyanyian yang diemisikan oleh kebanyakan
burung bernyanyi, karena terdapat dua sumber
suara yang dapat dikendalikan oleh otot
siringeal pada kedua sisi. Otot siringeal akan
mengatur emisi suara dengan cara mengatur
frekuensi dan volume keluaran udara ekspirasi
yang melewati organ syrinx yang berasal dari
bronkus kanan dan bronkus kiri (SUTHERS et
al., 1997).
Berdasarkan hasil pengamatan, juga
diketahui bahwa cincin-cincin kartilago yang
menyusun organ bronkus, syrinx, dan trakea
5 mm
Syrinx
bronkus
3,5 mm
trakea
cincin
kartilago
trakea
paru-paru
4 mm
syrinx
trakea
bronkus
4 mm
cincin kartilago
trakea
59 mm
paru-paru
(b)
(a)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
790
burung anis merah tampak lebih besar serta
memiliki kerapatan antar cincin kartilago yang
lebih rendah atau tampak lebih renggang
dibandingkan dengan cincin kartilago pada
organ bronkus, syrinx, dan trakea burung
kenari. Dengan demikian, karakteristik anatomi
bronkus, syrinx, dan trakea burung anis merah
cenderung lebih lentur atau lebih fleksibel. Hal
tersebut kemungkinan berhubungan dengan
kemampuan burung anis merah dalam
mengemisikan karakteristik nyanyian dengan
jumlah tipe silabel yang banyak. Berbeda
dengan burung anis merah, burung kenari
memiliki cincin-cincin kartilago penyusun
organ syrinx, bronkus, maupun trakea yang
lebih kecil dan tersusun lebih rapat
dibandingkan dengan susunan cincin kartilago
pada organ syrinx, bronkus, dan trakea burung
anis merah, sehingga bersifat kurang lentur.
Hal tersebut kemungkinan berhubungan
dengan karakteristik nyanyian burung kenari
yang hanya mampu mengemisikan sedikit tipe
silabel. Namun demikian, burung kenari
memiliki kemampuan mengemisikan repetisi
silabel yang tinggi dengan durasi nyanyian
yang lebih panjang dibandingkan dengan
burung anis merah.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis terhadap keenam
parameter penilaian kualitas suara, diketahui
bahwa burung kenari B dan burung anis merah
C merupakan burung yang berkualitas paling
baik dibandingkan dengan dua individu lainnya
dalam satu spesies. Selain itu, berdasarkan
parameter syllabel repertoire dan song
repertoire diketahui bahwa karakteristik
nyanyian burung kenari dan burung anis
berbeda. Perbedaan tersebut menunjukkan
bahwa setiap spesies memiliki kemampuan dan
keterbatasan yang berbeda dalam
mengemisikan variasi silabel atau nyanyian.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
penilaian kualitas burung bernyanyi
berdasarkan parameter yang sama tidak dapat
dilakukan pada spesies burung bernyanyi yang
berbeda-beda, atau dalam aplikasinya, sistem
penjurian pada kontes kejuaraan burung
bernyanyi kelas campuran tidak dapat
dilakukan secara objektif.
Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk
anatomi syrinx yang merupakan organ vokal
utama pada burung bernyanyi, dapat
disimpulkan bahwa bentuk anatomi syrinx
burung kenari dan burung anis merah berbeda.
Perbedaan tersebut berhubungan pula dengan
perbedaan karakteristik nyanyian yang
diemisikan oleh masing-masing spesies.
DAFTAR PUSTAKA
BRAINARD, M.S. dan A.J. DOUPE. 2002. What
Songbirds Teach Us About Learning.
Macmillan Magazine Ltd, California, USA.
BRENOWITZ, E.A., D. MARGOLIASH dan K.W.
NOORDEEN. 1997. An Introduction to Birdsong
and the Avian Song System. John Wiley dan
Sons, Inc. pp. 495 – 501.
CATCHPLE, C.K. dan P.J.B. SLATER. 1995. Bird Song:
Biological Themes and Variations. Cambridge
University Press, Cambridge.
DRAGANOIU, T.I., L.NAGLE dan M. KREUTZER. 2002.
Directional Female Preference for an
Exaggerated Male Trait in Canary (Serinus
canaria) Song. Proc. R. Soc. Lond. B. 269:
2525 – 2531.
FAGERLUND, S. 2003. Acoustics and Physical Models
of Bird Sounds. Laboratory of Acoustics and
Audio Signal Processing, pp. 1 – 13.
FITRI, L.L. 2002. Panduan Singkat Perekaman dan
Analisa Suara Burung. Departemen Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Institut Teknologi Bandung.
GAUNT, A.S. 1983. A Hypothesis Concerning The
Relationship of Syringeal Structure to Vocal
Abilities. Auk 100: 853 – 862.
HARTLEY, R.S. dan R.A. SUTHERS. 1989. Airflow
and Pressure During Canary Song: Direct
Evidence for Mini-Breaths. J. Comp. Physiol.
A. 165: 15 – 26.
KING, A.S. 1989. Functional Anatomy of Syrinx. In:
Form and Function in Birds. Vol. 4. KING,
A.S. dan J. MCLELLAND (Eds.). Academic
Press, London.
LEITNER, S. dan C.K. CATCHPOLE. 2004. Syllable
Repertoire and the Size of the Song Control
System in Captive Canaries (Serinus canaria).
Wiley Periodicals, Inc. pp. 21 – 26.
MCLELLAND, J. 1989. A Colour Atlas of Avian
Anatomy. Wolfe Publishing Ltd, England.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007
791
SPECHT, A.R. 1996. Avisoft-Sonagraph Pro. User’s
Guide Version 2.7. Sound Analysis Software
for MS-Window.
SUTHERS, R.A. 1997. Peripheral Control and
Lateralization of Birdsong. J. Neurobiol. 33:
632 – 652.
SUTHERS, R.A. dan F. GOLLER. 1997. Motor
Correlates of Vocal Diversity in Songbirds.
Current Ornithology. 14: 235 – 288.
SUTHERS, R.A., F. GOLLER dan C. PYTTE. 1999. The
Neuromuscular Control of Bird Song. Phil.
Trans. R. Soc. 354: 927 – 939.
SUTHERS, R.A., VALLET, E., A. TANVEZ dan M.
KREUTZER. 2004. Bilateral Song Production in
Domestic Canaries. Wiley Periodicals, 1nc.
pp. 381 – 393.
SUTHERS, R.A. dan D. MARGOLIASH. 2002. MOTOR
CONTROL OF BIRDSONG. CURR. OPIN.
NEUROBIOL. 12: 684 – 690.
TURUT, R. 2006. Mencetak Kenari Unggul. Penebar
Swadaya, Jakarta.
VALLET, E., I. BEME dan M. KREUTZER. 1997. Twonote
Syllable in Canary Songs Elicit High
Levels of Sexual Display. An. Behav. SS. 55:
291 – 297.